Sabtu, 07 Juli 2012

I'm comforted, I'm trust: The Power of Building Rapport

Dalma dunia konseling atau terapi, seorang konselor atau terapis perlu membangun hubungan (rapport) yang baik dengan kliennya. Hubungan baik akan terjalin tergantung dari bagaimana seorang konselor/terapis bersikap. Nah, dari tulisan Ketan (2009) yang pernah kubaca, ternyata ada poin penting terkait builing rapport yang perlu diperhatikan saat proses konseling/terapi, yaitu sebagai berikut:

1.   Pacing
Tujuan dari pacing ini adalah membawa klien dalam kondisi nyaman.
Prosesnya dimulai dengan berusaha menyamakan posisi dan mengikuti kesukaan klien, sebagai sikap awal yang menunjukkan bahwa konselor memahami klien. Jika sudah terjalin komunikasi, proses pacing diperkuat dengan adanya proses empati kepada klien sehingga klien merasa nyaman.
Yang dapat dijadikan sarana dalam pacing :
  • Mengikuti kebiasaan/ habit klien
  • Situasi, yaitu tempat dimana klien merasa nyaman
  • Menyamakan fisiologi/ gesture, maksudnya adalah membuat posisi kita sejajar dengan klien, sehingga klien tidak merasa digurui
  • Menggunakan Language (Rep System) and Meta Program yang tepat
Terkait dengan fokus penginderaan klien (visual, auditory, atau kinesthetic). Misalnya, orang yang lebih kuat visualisasinya, konselor dapat menggunakan kata “kelihatannya”, “nampaknya”. Jika klien lebih kuat dalam hal auditory, dapat menggunakan kata “kedengarannya”. Jika klien lebih dominan dalam hal kinestetik, dapat digunakan kata “rasanya”, dan sebagainya.

2.   Leading
Leading dilakukan jika klien telah merasa nyaman, sehingga dapat diajak atau diarahkan menuju outcome atau tujuan yang diharapkan. Teknik ini digunakan dengan memanfaatkan cerita yang telah disampaikan klien.
Tujuan dari leading ini adalah membangun kepercayaan klien sehingga nantinya klien dapat dengan mudah diarahkan, dibimbing, dibantu dalam menemukan jalan keluar dari permasalahannya. 
Dalam pelaksanaannya leading dapat dilakukan setelah dua atau tiga kali pacing.
Oiya, yang tidak kalah pentingnya adalah yang ketiga, kita juga perlu menguasai teknik refleksi empati, karena hal tersebut juga menjadi kunci terbentuknya hubungan yang baik. Teknik refleksi empati itu meliputi dua macam, yaitu refleksi isi dan refleksi emosi, dan dua-duanya bisa dipakai secara bergantian saat terapis/konselor mendengarkan aktif. Disamping itu, perlu juga sesekali melakukan summarizing atau paraphrasing agar suasana semakin nyaman dan kondusif. Daan.. kemampuan tersebut perlu dilatih, tidak hanya sekedar teori karena termasuk skill. So, bagi para konselor/terapis semangat mengembangkan diri yaa...

Senin, 21 Maret 2011

Aku Bisa Meskipun Aku Disleksia: Refleksi dari Film "Taare Zameen Par"

Film Taare Zameen Par ini menceritakan tentang kisah seorang anak laki-laki, bernama Ishaan Nandkishor Awasthi, yang berusia 7-8 tahun. Tanpa diketahui oleh orang tuanya, anak ini ternyata mengalami kesukaran belajar yang dimasukkan dalam kategori dyslexia. Seorang anak yang mengalami dyslexia akan mengalami kesukaran dalam hal membaca, bahkan mungkin akan mengalami kesukaran pula dalam kemampuan matematikanya. Seperti halnya ditunjukkan oleh Ishaan. Dia tidak dapat membaca dan menulis, terutama terkait dengan memahami kata dan cenderung mengalami mirror imaging untuk huruf atau kata tertentu. Sebagai contoh, ia tidak dapat membedakan antara huruf “b” dan “d” dan mengalami mirror imaging untuk huruf “r”, “s”, “t”, dan “h”. Disamping itu, gejala yang lain ditunjukkan dengan adanya kebingungan yang dialami ketika ia mendapatkan multiple instruction, seperti “buka halaman 65, bab 9, paragraf 4, baris ke-2”. Ishaan juga mengalami hambatan dalam memahami bunyi, memvisualisasikan dan mengetahui makna suatu kata serta mengalami keterlambatan dalam memahami ukuran, jarak, dan kecepatan suatu benda. Hambatan ini disebut dengan poor final gross motus skill. Akibat dari keterlambatan ini ia menghadapi permasalahan mengancingkan bajunya atau mengalami kesulitan dalam mengaitkan tali sepatunya.
 
Jika ditinjau lebih jauh, sebenarnya hambatan belajar yang dialami Ishaan ini dapat diatas dengan mengajarinya secara perlahan-lahan dengan sikap yang menunjukkan rasa kasih sayang, perhatian, dan penuh penerimaan. Akan tetapi, hal tersebut tidak didapatkan dari lingkungan sekitarnya, baik dalam lingkungan keluarganya maupun lingkungan di sekolahnya. Orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya, cenderung menuntut anaknya agar menjadi nomor satu, dan melabel buruk setiap perbuatan yang dilakukan anaknya tanpa mendengarkan penjelasan mengapa hal itu dilakukan, justru akan memberikan stressor tersendiri untuk Ishaan. Ia cenderung akan merasa bahwa dirinya dianggap tidak berguna dan tidak diperhatikan. Terlebih lagi guru di lingkungan sekolahnya kurang dapat memahami dan menjalin hubungan kooperatif dengannya. Alhasil, Ishaan dianggap anak yang mengalami retardasi.

Padahal jika dilihat dari kemampuan kognitifnya, ada kemungkinan Ishaan tidak mengalami retardasi. Hal ini dibuktikan dengan adanya kemampuan untuk memahami kondisi di lingkungannya dan kemampuan untuk menuangkan imajinasinya dalam lukisan. Namun, lack of social support dan label negatif yang diperolehnya membuat kemampuan ini dipandang sebelah mata oleh lingkungannya. Terlebih lagi, hal ini diperburuk dengan adanya stereotype bahwa seorang anak berprestasi dan pandai dapat dilihat dari kemampuan akademisnya.

Keputusan Mr. Awasthi untuk memasukkan Ishaan ke boarding school dikarenakan Ishaan mengalami kegagalan belajar di tahun ketiganya, ternyata memberikan tekanan batin bagi Ishaan. Ishaan menganggap bahwa boarding school adalah tempat hukuman atas ketidakmampuan akademiknya (punishment). Di sisi lain, dia juga merasa bahwa dirinya ditolak oleh keluarganya, yang dia ungkapkan dalam lukisan. Adanya tekanan dan kurangnya dukungan sosial serta penerimaan dari lingkungan terdekatnya inilah yang membuat ia merasa rendah diri, tidak mampu, ketakutan, bahkan menurunkan motivasi untuk mengembangkan kemampuan melukisnya.

Fenomena ini terus berlanjut hingga seorang guru melukis bernama Ram Shankar Nikum mampu mendeteksi kesukaran belajar yang dialami Ishaan. Guru ini berusaha untuk memahami hambatan dalam proses psikologis yang dialami Ishaan dan mencoba untuk membantu Ishaan keluar dari permasalahannya. Hal pertama yang dilakukannya adalah mengamati perilaku Ishaan dan mencoba untuk mencari data-data yang diperlukan terkait dengan permasalahan Ishaan, seperti bertanya kepada teman dekat Ishaan, hasil pekerjaannya dan keluarganya. Kemudian ia mengidentifikasi masalah berdasarkan gejala-gejala yang dialami Ishaan dan keterangan yang diberikan oleh keluarga Ishaan. Dari sini ia memastikan bahwa Ishaan mengalami disleksia dan mencoba untuk membangun acceptance pada keluarga Ishaan, terutama ayahnya. Ia menjelaskan bahwa setiap anak mempunyai kualitas, keahlian dan minat yang berbeda, sehingga tidak dibenarkan seorang anak dibedakan berdasarkan kemampuan akademisnya. Kemudian ia mencoba untuk membangun self-confidence dan self-acceptance dalam diri Ishaan, sehingga Ishaan merasa lebih percaya diri dan mau mengembangkan kemampuannya. Karena Ishaan mempunyai kesulitan untuk intepretasi stimulus, memahami dan mengintegrasikan informasi visual, ia memberikan latihan spesifik dalam hal memproses informasi untuk keterampilan membaca dan menulis kepada Ishaan.

Dari proses yang telah dilakukan, tampak bahwa Ram Shankar melakukan evaluasi formatif, dimana dia mengukur kemajuan Ishaan dengan membandingkannya dengan dirinya, antara lain memperhatikan kesulitan pronounsiasi huruf tertentu, sehingga ia akan memperhatikan ketika huruf tersebut diucapkan. Disamping itu, ia juga memberi bacaan atau daftar kata yang disusun urut berdasarkan taraf kesukaran. Ishaan diminta membaca bacaan dari taraf kesukaran yang relatif rendah, dan meningkat pada bacaan yang mempunyai taraf kesukaran tertentu, dan memonitor kesalahan yang dibuat, misal kata-kata yang dihilangkan, salah pronounciation, pemutaran/pembalikan kata.

Proses yang dilakukan Ram Shankan ini juga diikuti dengan sikap sabar, telaten, penuh penerimaan, penuh perhatian, dan kasih sayang, sehingga Ishaan dapat membangkitkan motivasi pada diri Ishaan. Alhasil, prestasi Ishaan pun menjadi bisa dibanggakan dan diakui oleh seluruh siswa dan gurunya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pertimbangan pendidikan yang tepat untuk anak yang mengalami disleksia, yang juga disertai dengan dukungan sosial dan sikap penuh penerimaan dari lingkungan sekitarnya akan mendorong peningkatan prestasi dan kepercayaan diri (self-esteem) anak-anak yang mengalami disleksia. Inilah poin penting dalam mendamping anak-anak berkebutuhan khusus seperti disleksia.

Seseorang yang mengalami dyslexia sering diatribusikan mengalami defisit atau keabnormalan dalam fungsi cerebellum-nya. Dalam penelitian terdahulu, untuk mengungkapkan hal tersebut, diggunakan dua macam pendekatan, yaitu Phonological Deficit Hypothesis dan The Magnocellular Deficit Hypothesis. Untuk meneliti lebih jauh mengapa anak yang mengalami dyslexia berkemungkinan gagal untuk belajar membaca, diperlukan pemahaman terkait dengan proses belajarnya. Sehubungan dengan hal itu, Fawcett & Nicholson meneliti tentang peran cerebellum pada orang yang mengalami disleksi dalam artikel penelitiannya.

Kedua peneliti menyatakan bahwa permasalahan dyslexia ini juga tidak hanya terbatas pada kesulitan membaca tetapi juga kesulitan membunyikan kata atau kalimat. Kemampuan membunyikan kata-kata ini juga diawali dari kemampuan mendengarkan dan mencerna bahasa yang didengar. Hal ini dikenal dengan automatisation skills. Berangkat dari permasalahan tersebut, seorang anak yang mengalami dyslexia dipandang mengalami hambatan dalam kemampuan automatisation. Untuk selanjutnya, penelitian ini akan membahas dan menjelaskan penyebab hambatan automatisation skills pada penderita dyslexia dalam lingkup brain level.

Dalam penelitian ini, kedua peneliti menggunakan pandangan Cerebellum Deficit Hypothesis (CDH) untuk menjelaskan penyebab adanya kesulitan membaca dan kesulitan lainnya pada penderita dyslexia. Sebagai landasan penelitian yang dilakukan, kedua peneliti juga mereviu program-program penelitian dan bukti-bukti mengenai CDH dalam kurun waktu 15 tahun ini.

Tujuan identifikasi yang dilakukan melalui penelitian ini adalah untuk mengetahui kebutuhan khusus pada penderita dyslexia terutama dalam bidang pendidikan, agar kita dapat mendukung mereka secara proaktif sebelum mereka merasa gagal serta dapat memberikan intervensi dengan tepat.

Peneliti mengawali penelitiannya dengan menyiapkan overview bukti-bukti empiris terbaru mengenai peranan utama cerebellum terkait dengan kemampuan kognitif, khususnya dalam tingkatan kemampuan bahasanya, serta kemampuan motoriknya. Selanjutnya, peneliti menguraikan bukti-bukti dari laboratorium yang menunjukkan bahwa penderita dyslexia mengalami disfungsi cerebellar.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan membagi subjek penelitian menjadi dua kelompok, yaitu kelompok perlakuan yang memenuhi dua kriteria standar sebagai penderita dyslexia, memiliki IQ diatas 90, reading age minimal 18 bulan lebih lambat dibanding umur kronologisnya, tidak memiliki gejala ADHD serta tidak mengalami gangguan emosi dan perilaku; dan kelompok kontrol (normally-achieving) dengan kriteria latar belakang sosial yang sama dan memiliki kesesuaian antara umur dan IQ. Secara keseluruhan subjek penelitian ini berjumlah 126 anak dengan rentang umur antara 8-16 tahun. Kedua kelompok tersebut diberi tugas yang menggunakan peranan cerebellum dan tugas-tugas lainnya yang dirancang untuk anak dyslexia. Kemudian hasil yang diperoleh dianalisis dengan sistem panel study.

Dari analisis yang dilakukan berdasarkan bukti-bukti yang ada, diperoleh dua pertimbangan spesifik, yaitu dari perilaku dan neuroimaging yang menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok dyslexia dan kelompok kontrol. Berdasarkan tes perilaku yang dilakukan, kelompok perlakuan memilikikemampuan membaca yang lemah. Dari penelitian ini juga membuktikan dan memperkuat adanya pandangan Cerebellum Deficit Hypothesis (CDH) pada anak yang mengalami dyslexia.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa rantai atau hubungan sebab akibat secara ontogenetik terjadi pada penderita dyslexia. Keabnormalan cerebellum yang terjadi sejak lahir akan mempengaruhi perkembangan seseorang dan dapat menjadi penyebab dyslexia. Penelitian ini dapat menjadi wacana bagi kita untuk mengetahui latar belakang seseorang dapat menderita dyslexia. untuk selanjutnya sebaiknya peelitian ini dilanjutkan dengan menyertakan intervensi yang efektif terhadap penderita dyslexia.

Jumat, 03 September 2010

Scale of Measurement

Melihat judul tulisannya, rasanya agak "wow", hahaahahaa, pun diriku, yang sejatinya alasan dibalik tulisan ini adalah "karena aku tidak paham", jadi mencoba memahaminya dengan menuliskan ulang apa yang telah kupelajari sewaktu kuliah PAUP (Perancangan Alat Ukur Psikologi) tadi pagi. Hehee... terlepas dari itu semua,, harapannya sih juga bermanfaat bagi yang membaca ini.

Nah, pelajaran yang kudapatkan hari ini adalah tentang empat jenis skala ukur dan perbedaan-perbedaannya. Menurut Steven (dalam Azwar, 1999), terdapat empat jenis skala ukur, yaitu sebagai berikut:
1. Skala Nominal
  • Dua angka menunjukkan objek yg berbeda (Different), contohnya: nomor ruangan (202 dg 302)
  • Tidak berlaku operasi hitung
  • Tidak punya order/ranking
  • Tidak menunjukkan jarak/distance
  • Tidak punya unique origin atau angka 0 mutlak 
  • Dapat mengalami transformasi isomorfik, yaitu angkanya boleh diganti asal tetap menunjukkan identifikasi perbedaan (tidak berubah fungsi & makna)
2. Skala Ordinal
  • Menunjukkan objek yg berbeda, tetapi sudah memiliki order/peringkat
  • Tidak jelas jarak/distance antara kedua objek
  • Tidak berlaku operasi hitung
  • Dapat mengalami transformasi monotonik (angka-angka ordinalnya dpt diubah, tetapi harus menunjukkan urutan yg sama)
 3. Skala Interval
  • Menunjukkan perbedaan dan tingkatan/ urutan
  • Mempunyai jarak
  • Bisa dikenai operasi hitung
  • Dapat mengalami transformasi linear, yaitu angka-angkanya bisa diubah asalkan skala/range/perbandingan tetap/sama
  • Angka-angkanya bersifat parametrik (untuk statistik parametrik), misalnya: IQ (WAIS), suhu
  • Catatan: Skala psikologi :  hasil ukurnya biasanya berupa ordinal, untuk mendapatkan hasil ukur interval ---cara yg digunakan : distandarkan atau diskalakan
4. Skala Rasio
  • Hanya ada dalam pengukuran fisik
  • Menunjukkan perbedaan, order, jarak, unique origin
  • Grafik y=mx, maksudnya melewati titik 
  • Berlaku operasi hitung

Buku Acuan:
Azwar, S. 1997. Reliabilitas & Validitas, Edisi 3. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Azwar, S. 1999. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 

Minggu, 25 April 2010

Forgiveness: Memaafkan Bukanlah Sekedar Melupakan

Beberapa ahli sudah banyak yang membahas, bahkan meneliti tentang permaafan. Diantara ahli-ahli tersebut, didapatkan penjelasan, bahwa Forgiveness merupakan salah satu mekanisme untuk mengurangi atau menghilangkan sifat alami menghindar dan balas dendam, dengan cara menolak atau membuang respon negatif terhadap seseorang (McCulough & Worthington, 1999). Sedangkan Freedman (1998) mengungkapkan forgiveness merupakan proses berdamai, yang secara tidak langsung merujuk pada perbaikan akan suatu hal atau hubungan yang retak. 
Memaafkan bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan, terlebih lagi jika orang atau kejadian yang dialaminya terasa menyakitkan hingga mengancam kesejahteraan dirinya. Hal tersebut pun pada akhirnya membuat seseorang mengakhiri ketidaknyamanan yang terjadi dengan cara melupakan, sehingga terkadang pandangan antara memaafkandan melupakan hanyalah beda tipis. Secara latah pun orang akan menganggap suatu urusan selesai bila sudah tercapai kesepakatan untuk melupakan. Padahal, dari asal katanya sendiri memaafkan tidaklah sama dengan melupakan, forgiving berbeda dengan forgetting, excusing, pardoning, condoning, maupun denial. Seseorang bisa dikatakan memaafkan bila di dalam dirinya sudah melepaskan permasalahan yang dulunya dipandang menyakitinya, sehingga saat masalah tersebut diungkit sudah tidak ada reaksi fisik maupun reaksi emosi yang terlibat di dalamnya. Ternyata tidak sesimpel sekedar melupakan bukan?
Setelah membaca penjelasan di atas, mungkin dalam diri pembaca ada yang bertanya, "Lalu, jika demikian, bagaimana bisa aku memaafkannya, ketika ini terasa sangaaat menyakitkan?"
atau pertanyaan, "Aku sudah memaafkannya kok, buktinya hal itu sudah tidak menggangguku, bahkan aku tidak memikirkannya." Jikalau pertanyaan ini masih ada, sesungguhnya dalam diri kita sedang proses melupakan, bukan memaafkan. Tanpa diakui pun sebenarnya kita masih merasakan reaksi atas rasa sakit atau kecewa karena hal yang belum kita maafkan. Iya kan? Heheee...
"Terus, aku kudu piye?" Bahkan seringkali pertanyaan ini yang akan dilontarkan pasca menyadari hal itu.  
Hey, jangan berkecil hati dulu, setiap orang pasti pernah berada di fase itu, tinggal bagaimana kita belajar untuk memaafkan dan menjadi lebih baik dibanding sebelumnya.
Saya pernah membaca sebuah artikel mengenai 9 langkah memaafkan, tapi maaf saya lupa sumbernya (mungkin bisa dibenahi lain kali), yaitu sebagai berikut:
  1. Kenali perasaanmu dan ceritakan pada orang yang dapat dipercaya.
  2. Buatlah komitmen apa yang harus kamu lakukan untuk merasa lebih baik.
  3. Temukan kedamaian.
  4. Dapatkan persepsi yang benar mengenai apa yang sebenarnya terjadi. 
  5. Praktekkan manajemen stres. 
  6. Berhenti berharap akan sesuatu yang tidak bisa kamu miliki
  7. Cari alternatif lain untuk mencapai tujuan hidup yang positif
  8. Pahami bahwa memiliki kehidupan yang baik adalah “balas dendam” yang terbaik. 
  9. Jadikanlah pengalaman memaafkanmu itu sebagai sebuah pilihan yang heroik.
Kalau cara itu belum berhasil untukmu, mungkin kita bisa mendiskusikan manfaat dari memaafkan itu sendiri bagi kita. Pernahkah terpikirkan olehmu bila memaafkan itu memberikan manfaat fisik dan psikis bagi kita?
Kalau belum, saya jabarkan nih

Manfaat bagi kesehatan fisik yang akan kita rasakan, antara lain:
  1. Aktivitas hormon dan tekanan darah lebih stabil
  2. Otot menjadi lebih rileks. 
  3. Terhindar dari penyakit-penyakit akibat stres seperti sakit punggung bagian bawah dan sakit perut.


Manfaat bagi kesehatan mental kita antara lain:
1. Forgiveness memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran
2. Forgiveness menurunkan emosi negatif.
3. Meningkatkan kemampuan mengendalikan diri.  
4. Menghilangkan stress dan balas dendam.

Kalau kita tinjau lebih jauh lagi, ternyata reaksi fisik tidak memaafkan itu ternyata sama dengan reaksi fisik ketika kita mengalami stres. Berikut penjelasannya:


 SO, pilih yang mana? memaafkan atau tidak?





Selasa, 23 Februari 2010

Berfungsi Sepenuhnya : Sehat Mental Menurut Rogers


Dalam dunia Psikologi terdapat banyak pandangan mengenai orang yang memiliki mental yang sehat. Masing-masing pendekatan memiliki sudut pandang secara khas. Untuk kesempatan kali ini, sya akan berbagi tentng konsep sehat mental dari Carl Rogers, salah satu tokoh yang menekuni pendekatan humanistik. Tulisan ini sepenuhnya saya ringkas dari Buku Growth Psychology yang ditulis oleh Dianne Schultz.

Tulisan ini memang diawali dari ketertarikan saya terhadap pendekatan humanistik, dan saya senang berbagi dengan para pembaca. Tapi, jika Saudara ingin menggunakan referensinya, mohon digunakan secara bijak dan etis.

Pokok-pokok Pendekatan Rogers terhadap Kepribadian

Rogers mengembangkan suatu metode terapi, yaitu “terapi terpusat pada klien” (client-centered therapy), yang menempatkan tanggung jawab utama terhadap perubahan kepribadian klien. Hal tersebut didasarkan pada pandangan bahwa kepribadian harus diperiksa dan dipahami melalui segi pandangan pribadi klien dan pengalaman-pengalaman subjektifnya sendiri.Jadi, persepsi setiap klien tentang realitas dipandang sebagai persepsi yang unik.

Rogers juga memandang bahwa kodrat manusia adalah makhluk yang sadar dan rasional

Sadar

maksudnya adalah orang-orang dibimbing oleh persepsi sadarnya terkait diri mereka dan dunia sekitar mereka, bukan oleh kekuatan-kekuatan tak sadar yang tidak dapat mereka kontrol.kriterium terakhir seseorang adalah pada pengalaman sadarnya sendiri dan pengalaman itu memberikan kerangka intelektual dan emosional dimana kepribadian terus-menerus bertumbuh.

Rasional

Maksudnya adalah tidak dikontrol oleh peristiwa masa kanak-kanak, lebih mementingkan untuk memandang masa sekarang dan bagaimana kita memandangnya bagi kepribadian yang sehat daripada masa lampau. Dalam hal ini pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi cara pandang di masa sekarang dan juga mempengaruhi tingkat kesehatan psikologis kita.

Motivasi Orang yang Sehat : Aktualisasi

Setiap segi pertumbuhan dan perkembangan manusia terkait erat dengan kecenderungan aktualisasi diri, sebab aktualisasi diri merupakan komponen-komponen pertumbuhan fisik dan psikologis “kebutuhan fundamental” manusia yang dibawa sejak lahir disamping memeliharakan dan meningkatkan semua segi individu. Pertumbuhan dari segi fisiologis cenderung terjadi dan lebih didominasi pada tahun-tahun awal kehidupan. Kecenderungan aktualisasi pada tingkat fisiologis mendorong individu ke depan dari salah satu tingkat pematangan ke tingkat pematangan berikutnya, yaitu memaksanya untuk menyesuaikan diri dan tumbuh. Aktualisasi-diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat serta potensi-potensi psikologisya yang unik. Orang yang sehat secara psikologis cenderung mengaktualisasikan diri untuk mencapai tujuan hidup, tidak hanya sekedar mempertahankan suatu keseimbangan homeostatis atau suatu tingkat ketentraman dan kesenangan yang tinggi, tetapi juga pertumbuhan dan peningkatan. Aktualisasi diri ditentukan oleh kekuatan-kekuatan sosial dan bukan oleh kekuatan-kekuatan biologis. Aktualisasi diri dapat dibantu namun juga dapat dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar, terutama dalam masa kanak-kanak. Kecenderungan khusus ke arah aktualisasi diri ditandai dengan pematangan dan perkembangan seluruh organisme yang sama sekali tidak dipengaruhi oleh belajar dan pengalaman.

Pengembangan Diri

Setiap individu akan mengembangkan self-concept-nya terutama di masa kecilnya yang sangat dipengaruhi oleh ibu. Cara-cara khusus bagaimana diri berkembang dan apakah dia akan menajdi sehat atau tidak tergantung pada cinta yang diterima anak itu pada masa kecil. Dalam individu yang sehat dan yang mengaktualisasikan diri muncullah suatu pola yang berkaitan dengan self-concept secara konsisten.

Pengembangan pribadi sehat menurut Rogers

Kepribadian yang sehat akan tumbuh tergantung pada pemuasan kebutuhan akan positive regard, terutama kasih sayang dan cinta ibu.Syarat utama timbulnya kepribadian sehat adalah Unconditional Positive Regard (UPR) pada masa kecil; akan berkembang jika ibu memberikan cinta dan kasih sayangnya tanpa memperhatikan bagaimana anak bertingkah laku. Anak yang mendapat UPR akan merasa dicintai dan dihargai oleh ibunya, anak akan mencintai dan menghargai dirinya (positive self regard). Anak yang memiliki positive self regard, dalam kondisi apapun tidak takut untuk menyadari (melambangkan, memahami, dan menerima) pengalaman-pengalaman dan emosi dalam kehidupannya. Pengalaman dan emosi (positif atau negatif) yang disadari tersebut akan diorganisasikan dalam struktur self-nya. Anak yang mampu mengorganisasikan pengalaman ke dalam struktur self-nya, mengalami congruence antara real self dan ideal self, sehingga anak dapat mengaktualisasikan dirinya (mengembangkan potensi-potensinya, sehingga menjadi orang yang berfungsi sepenuhnya/ fully functioning person).

Pengembangan pribadi tidak sehat
Pribadi yang tidak sehat timbul karena adanya Conditional Positive Regard (CPR), karena masa kecil kurang terpenuhinya positive regard. Anak harus bekerja keras untuk mendapatkan positive regard dengan mengorbankan aktualisasi diri. Kasih sayang dan cinta yang diterima anak adalah syarat terhadap tingkah lakunya yang baik, sehingga anak merasa berharga atau memiliki harga-diri hanya dalam syarat-syarat tertentu.

Pengembangan diri yang terjadi pada anak CPR :

1. menginternalisasikan sikap-sikap ibu secara bersyarat.

2. menimbulkan sikap defensif dalam tingkah laku anak, sehingga kebebasan individu terbatas, kodarat atau dirinya yang sejati tidak dapat diungkap sepenuhnya.

3. tidak melambangkan pengalamannya (tidak terbuka dengan lingkungan, karena merasa tidak sesuai dengan struktur self, sehingga anak mengembangkan ketidakharmonisan/incongruence antara real self dan ideal self).

Orang yang Berfungsi Sepenuhnya
Menurut Rogers, orang yang berfungsi sepenuhnya (berkepribadian sehat) adalah orang yang bisa mengaktualisasikan diri :
- Aktualisasi diri berlangsung terus, tidak pernah merupakan kondisi yang selesai atau statis, berorientasi ke masa depan

- Aktualisasi diri merupakan suatu proses yang sukar dan kadang-kadang menyakitkan, sehingga membutuhkan keberanian untuk melakukannya. Hasil sampingan dari perjuangan aktualisasi diri adalah kebahagiaan.

- Orang-orang yang mengaktualisasikan diri adalah orang-orang yang menjadi diri mereka sendiri.

- Orang-orang yang mengaktualisasikan diri tidak hidup di bawah hukum-hukum yang diletakkan orang-orang lain.

Lima Sifat Orang yang Berfungsi Sepenuhnya

1. Keterbukaan pada pengalaman

Merupakan lawan dari defensif, sebab setiap pendirian dan perasaan yang berasal dai dalam dan dari luar disampaikan ke sistem syaraf organisme tanpa distorsi/ rintangan. Kepribadian adalah fleksibel, tidak hanya mau menerima pengalaman-pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tetapi juga dapat menggunakannya dalam membuka kesempatan-kesempatan persepsi dan ungkapan baru. orang yang terbuka terhadap pengalaman akan lebih ”emosional” (mengalami banyak emosi yang bersifat positif dan negatif) dan mengalami emosi-emosi itu lebih kuat dibanding orang-orang yang defensif.

2. Kehidupan eksistensial

Yaitu orang-orang yang dapat menyesuaikan diri, karena struktur diri terus-menerus terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru

3. Kepercayaan terhadap diri sendiri

Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat mampu memutuskan tindakan, tingkah laku menurut apa yang dirasakan benar (percaya akan keputusannya), serta mampu mempertimbangkan setiap informasi yang didapat dalam berbagai macam situasi. Semua segi organisme (sadar, tak sadar, emosional, dan juga intelektual)mampu dianalisis berdasarkan keterkaitan dengan masalah yang ada. Sedangkan, orang-orang defensif membuat keputusan menurut larangan-larangan yang membimbing tingkah lakunya.

4. Perasaan bebas

Orang yang berfungsi sepenuhnya akan mengalami kebebasan untuk memilih dan bertindak, atanpa adanya paksaan-paksaan atau rintangan-rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Orang tersebut akan memiliki perasaan berkuasa sepenuhnya secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya. Sedangkan orang defensif tidak dapat mewujudkan pilihan bebas itu ke dalam tingkah laku yang aktual.

5. Kreativitas

Orang yang befungsi sepenuhnya sangat kreatif, bertingkah laku spontan, berubah, bertumbuh, dan berkembang sebagai respons atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka ragam sekitar mereka. Orang-orang yang kreatif dan spontan tidak terkenal karena konformitas atau penyesuaian diri yang pasif terhadap tekanan-tekanan sosial dan kultural.

Daftar Pustaka

Schultz, D. (1991). Psikologi Pertumbuhan: Model-model Kepribadian Sehat (terjemahan). Yogyakarta: Kanisius.

Selasa, 07 April 2009

Being Happy? Why not? : Refleksi dari Film "Pursuit of Happyness"

Saya adalah orang yang suka banget menonton film dan yaah.. sekedar berbagi dengan orang lain mengenai film tersebut. Kali ini, saya kembali ingin menceritakan mengenai salah satu film yang saya tonton. Film ini dirilis pada tahun 2006 dengan judul Pursuit of Happyness. Bagian yang menarik bagi saya sebelum menonton adalah tulisan "Happyness" yang ditulis dengan huruf "y" bukan "i". Hehee.. mungkin saya terlalu detail dalam mengamati. Baiklaah.. kalau begitu saya mulai dengan membuat semacam sinopsis film nya ya..

Sinopsis Film
Film yang ditulis oleh Gabriele Muccino ini menceritakan kehidupan seorang ayah yang berusaha mencapai, mencari, dan menemukan apa yang ia sebut sebagai sebuah kebahagiaan. Di tengah liku-liku perjuangannya ia selalu didampingi oleh anaknya yang juga sebagai motivasi baginya.
Kisah ini diawali dengan perjuangan Chris Gardner (tokoh utama) dalam mencari pekerjaan dan menjual alat pemindai kepadatan tulang sebagai sumber penghasilannya. Rintangan yang dihadapi pun tidak mudah. Ia juga harus membayar sewa rumah, sekolah, dan juga membayar tilang karena ia parkir sembarangan. Semenjak itu, naik bus dan berlari telah menjadi bagian dari hidupnya.
Awal pencapaian kebahagiaannya dimulai dari pertemuannya dengan Jay Twistle yang juga kepala SDM pialang saham Dean Witter. Berkali-kali Chris mencoba mengajak Tn Twistle berbincang-bincang, namun ia kurang mendapat respon dari Tn. Twistle. Chris tidak menyerah begitu saja. Pada suatu ketika, Chris kembali menemui Tn. Twistle, namun ia buru-buru ke Noe Valley. Tanpa pikir panjang, Chris pun meminta ijin untuk ikut ke Noe Valley. Dari pertemuan ini, ternyata Chris bisa menarik perhatian dan menimbulkan kesan positif bagi Tn. Twistle.
Tak lama berselang, Jay Twistle pun menawarinya untuk menjadi calon magang. Chris pun menerimanya. Namun diluar dugaannya, ketika ia mengecat tembok rumah kontrakannya, polisi datang dan menagih pembayaran tilang. Chris pun baru boleh keluar dari tahanan keesokan harinya pada pukul 09.30. Padahal jadwal wawancaranya pukul 10.15.
Setelah urusan tilang selesai, ia pun berlari menuju Dean Witter tanpa sempat mengganti bajunya. Tentu saja hal ini membuat pewawancara tercengang. Namun, berkat usaha Chris untuk meyakinkan mereka, justru menimbulkan kesan positif untuk pewawancara, dan ia pun diterima magang di perusahaan selama 6 bulan tanpa gaji dan tanpa jaminan untuk diterima bekerja.
Berbekal tekad dan keyakinan untuk meraih impiannya ia pun berusaha menelepon dan mencari relasi sebanyak-banyaknya untuk memperjuangkan programnya. Ia pun berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat meskipun harus jatuh-bangun dan menghadapi rintangan yang berat.
Di akhir cerita, Chris pun berhasil mencapai dan menemukan kebahagiaanya. Ia dapat menarik 31 rekening ke Pice Bell. Ia pun diterima bekerja sebagai pialang di dean Witter. Setelah bekerja di Dean Witter, Chris mendirikan firma investasi Gardner rich. Tahun 2006, ia menjual saham minoritas dari firma pialangnya dalam kesepakatan multijuta dolar.

Kesan yang Ditangkap
Setelah menonton film tersebut, ada beberapa kesan yang bisa saya ungkapkan. Kesan yang pertama kali muncul di benak saya ketika melihat film ini adalah adanya self-efficacy yang tinggi pada diri Chris Gardner. Dengan adanya evaluasi diri yang positif terhadap kemampuan dirinya, ia pun berusaha dan berjuang keras mencapai dan menemukan kebahagiaannya. Keyakina yang ia wujudkan dalam tindakan itu pun mengantarkannya pada keberhasilan yang jug aia sebut sebagai sebuah kebahagiaan.

Penjelasan di atas dibuktikan dengan melalui usaha diaagar dapat bertemu dan berbincang-bincang dengan Jay Twistle. Selain itu, Chris juga berusaha keras untuk menyelesaikan pekerjaannya dan mengerjakan ujian dengan sungguh-sungguh agar dapat diterima kerja di Dean Witter.
Berdasarkan bukti tersebut, saya juga memandang bahwa Chris memiliki fokus diri yang positif, sehingga di dalam dirinya timbul ekspektansi optimistik (optimis dalam mencapai pengharapannya).
Dari film ini, saya juga melihat bahwa Chris Gardner memiliki kemampuan dalam hal persuasi. Hal tersebut terlihat ketika Chris berhasil mengubah sikap dan penilaian pewawancara ketika melihat ia datang ke Dean Witter tidak memakai pakaian formal. Namun, sikap pewawancara tersebut juga tidak lepas dari adanya atribusi positif terhadap sikap Chris. Kemampuan persuasinya juga terbukti dengan adanya keberhasilan Chris meraih 31 rekening yang masuk ke Pice Bell.

Demikian cerita saya hari ini... kita sambung lagi reviu fil di lain hari...